BerandaBlogPerjanjian Bagi Hasil Usaha — Cara Atur Kerjasama Bisnis yang Adil
KUR & UMKM8 Maret 2026· 7 menit baca

Perjanjian Bagi Hasil Usaha — Cara Atur Kerjasama Bisnis yang Adil

Banyak kerjasama bisnis yang hancur bukan karena bisnisnya gagal, tapi karena tidak ada aturan jelas soal bagi hasilnya. Ini cara membuat perjanjian bagi hasil yang adil dan mengikat.

⚖️
Tim LegalKan
Platform dokumen legal untuk UMKM Indonesia

Kenapa Banyak Kerjasama Bisnis Berakhir Sengketa?

Dua orang sahabat memulai usaha bersama dengan semangat yang menggebu. Satu pihak menginvestasikan modal, satu pihak menjalankan operasional. Awalnya semua berjalan lancar.

Tapi enam bulan kemudian, mulai muncul pertanyaan: siapa yang berhak mengambil keputusan pembelian? Berapa persen keuntungan yang menjadi hak masing-masing? Bagaimana jika salah satu ingin keluar? Karena tidak ada perjanjian tertulis, pertanyaan-pertanyaan ini berubah jadi debat, lalu pertengkaran, lalu akhir dari persahabatan dan bisnis.

Bukan karena orangnya jahat. Tapi karena aturan mainnya tidak pernah dituliskan.

Apa yang Harus Diatur dalam Perjanjian Bagi Hasil?

1. Modal Awal dan Kontribusi Masing-Masing Pihak

Kontribusi tidak harus selalu uang. Bisa berupa:

  • Modal uang tunai
  • Aset (kendaraan, peralatan, properti)
  • Keahlian atau tenaga kerja (sweat equity)
  • Jaringan atau relasi bisnis

Semua kontribusi harus dinilai dan disepakati nilainya di awal. Ini yang menentukan porsi kepemilikan masing-masing pihak.

2. Porsi Bagi Hasil

Ini inti dari perjanjian. Berapa persen keuntungan bersih untuk masing-masing pihak? Apakah porsi ini tetap atau bisa berubah seiring waktu?

Penting: tentukan apakah bagi hasil diambil dari keuntungan bersih (setelah semua biaya operasional) atau dari pendapatan kotor. Ini bisa membuat perbedaan yang sangat signifikan.

3. Mekanisme Pelaporan Keuangan

Kapan laporan keuangan dibuat dan dibagikan? Bulanan? Kuartalan? Siapa yang bertanggung jawab membuatnya? Apakah ada akuntan atau software akuntansi yang digunakan?

Tanpa transparansi keuangan, mudah sekali bagi satu pihak untuk merasa dicurangi — meskipun kenyataannya tidak ada kecurangan.

4. Pengambilan Keputusan

Siapa yang berhak membuat keputusan operasional sehari-hari? Keputusan besar apa yang membutuhkan persetujuan semua pihak? Bagaimana jika ada kebuntuan (deadlock) dalam pengambilan keputusan?

Contoh: pembelian peralatan di bawah Rp 5 juta bisa diputuskan satu pihak, tapi di atas itu perlu persetujuan bersama.

5. Gaji atau Kompensasi Pihak yang Menjalankan Operasional

Jika salah satu mitra aktif menjalankan bisnis sehari-hari, apakah mereka mendapat gaji atau tunjangan operasional? Ini perlu dipisahkan dari bagi hasil supaya tidak ada konflik kepentingan.

6. Mekanisme Keluar dari Kerjasama

Ini yang paling sering dilupakan. Bagaimana jika salah satu pihak ingin keluar?

  • Berapa lama notifikasi yang diperlukan?
  • Bagaimana nilai kontribusi dihitung saat exit?
  • Apakah pihak lain punya hak pertama untuk membeli porsi yang dijual (right of first refusal)?
  • Apa yang terjadi dengan aset bisnis jika kerjasama berakhir?

Bagi Hasil vs Saham — Apa Bedanya?

Ini sering membingungkan. Perbedaan utamanya:

Bagi Hasil (Profit Sharing): Cocok untuk kerjasama yang lebih informal dan jangka pendek hingga menengah. Tidak ada badan hukum yang dibentuk. Kedua pihak berbagi keuntungan berdasarkan kesepakatan. Lebih fleksibel, tapi perlindungan hukumnya lebih lemah.

Kepemilikan Saham: Membutuhkan pendirian badan hukum (PT atau CV). Setiap pemilik adalah pemegang saham dengan hak suara. Lebih formal, lebih terlindungi secara hukum, tapi prosesnya lebih panjang dan ada kewajiban administratif (laporan tahunan, rapat umum pemegang saham, dll.).

Untuk UMKM yang baru memulai kerjasama, perjanjian bagi hasil adalah pilihan yang lebih praktis. Tapi jika bisnis berkembang signifikan, pertimbangkan untuk membentuk badan hukum.

Tips Atur Pembagian yang Fair

  • Hitung berdasarkan kontribusi nyata, bukan "keadilan" abstrak. Jika satu pihak modal 70% dan satu pihak kerja penuh waktu, porsi 50/50 mungkin tidak adil untuk keduanya.
  • Evaluasi ulang setiap tahun. Kontribusi bisa berubah seiring waktu — pastikan ada mekanisme review berkala.
  • Pisahkan modal dari keuntungan. Modal yang diinvestasikan harus dikembalikan dulu sebelum keuntungan dibagi — ini menghindari ketidakadilan jika bisnis baru mulai untung.

Buat Perjanjian Bagi Hasil yang Adil

LegalKan menyediakan template perjanjian bagi hasil usaha yang komprehensif, mencakup semua poin penting di atas, dan bisa dikustomisasi sesuai kesepakatan kamu dan mitramu.

👉 Buat Perjanjian Bagi Hasil di LegalKan — mulai dari Rp 29.000, selesai dalam 5 menit.

Bagikan:📱 WhatsApp
📝

Siap buat dokumen legal kamu?

LegalKan menyediakan 10+ jenis kontrak legal yang sesuai KUHPerdata Indonesia. Selesai dalam 5 menit, langsung dapat PDF.

Buat Dokumen Sekarang →

Artikel Terkait

KUR & UMKM

Syarat Dokumen KUR untuk UMKM 2024 — Panduan Lengkap

Baca artikel →
KUR & UMKM

Cara Daftar NIB Online Gratis di OSS — Selesai 15 Menit

Baca artikel →
KUR & UMKM

Bank Penyalur KUR Terbaik untuk UMKM — BRI, BNI, Mandiri, atau BSI?

Baca artikel →